September 30, 2015

Kerangka Pernikahan.

September 30, 2015

Aku sering membayangkan pernikahan kita.
Di sebelum lelapku, di peron stasiun saat menunggu kereta, bahkan disela-sela waktu kerjaku.
Aku senang merangkainya, dengan senyum yang terurai begitu saja.

Kelak, 
dipernikahan kita.
Di taman sederhana,
dikelilingi bunga dan balon berwarna setiap sudutnya,
akan disambut oleh sepasang penerima tamu dengan pakaian warna ungu,
sembari memberikan amplop coklat dengan perangko bergambarkan wajah kita sebagai cinderamata.

Di pintu masuk,
akan dihadang oleh tukang foto polaroid,
yang akan menyeret tamu ke lokasi penuh bunga,
dengan latar yang menggantung foto serta pesan-pesan manis dari sahabat kita.

Di sisi kanan,
akan tertata rapi kursi-kursi berwarna putih.
Sebagai tempat sahabat-sahabat kita menikmati hidangan,
yang semua menunya kamu pilihkan.

Di sisi kiri,
lokasi para pengolah melodi beraksi.
Mengiringi setiap detik yang berlalu, 
dengan nada sederhana,
yang aku yakin, kamu pasti suka.

Dan di pusat taman,
berada paling depan,
diatas panggung pelaminan yang tidak terlalu tinggi,
kita berdiri.
Aku mengenakan kemeja putih dengan setelan jas hitam,
dan kamu mengenakan gaun putih panjang,
yang pasti akan membuat iri para undangan.

Ya, seperti itulah kerangka pernikahan kita yang sering aku idamkan. 


Hingga akhirnya aku menyadari...

Meski nyatanya,
tak ada yang ingin ku-per-istri selain engkau,
tak ada yang ingin aku temani menua selain engkau,
dan tak ada yang kuijinkan tertawa melihat rambut putihku bertambah sebelum engkau.

Namun,
akhirnya aku harus terima.
Saat ini,
kau sedang mempersiapkan kerangka pernikahanmu sendiri.
Bukan denganku, 
melainkan,
Pernikahan,
kalian.


...yang membungkusmu dalam doa.
Dwi Ma'ruf Alvansuri



15 comments:

  1. sweet
    sukak ma isinya selain bait terakhir :D

    ReplyDelete
  2. Kok dia bisa nikah sama orang lain si? Kan sedih endingnya :'(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya karena sudah ditentukan gusti Allah. haha.

      Delete
  3. duh gustiii.... puisinya bagus bangeett

    ReplyDelete
  4. duh gustiii.... puisinya bagus bangeett

    ReplyDelete
  5. Why harus bersama yang lain huhuhuhuhu *ketauan stalking nya*

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya namanya jodoh mbak, yang tau cuma gusti Allah. *edisi bijak

      Delete
  6. Why harus bersama yang lain huhuhuhuhu *ketauan stalking nya*

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya namanya jodoh mbak, yang tau cuma gusti Allah. *edisi bijak

      Delete

Dwi Ma'ruf Alvansuri © 2014