November 27, 2012

Petrichor.

November 27, 2012
"itu terserah mas ivan, tapi seiringnya berjalan waktu, rasa sayang mas ivan ke aku pasti bakal hilang"
kalimat itu masih menetap di kepala. menancap erat. memukul tepat !
perpisahan, bukan hal yang tabuh dalam sebuah hubungan.

perkenalan diselimuti petrichor yang khas. diiringi gemericik dan juga dingin yang mulai berbisik.
kita berlari kesana kemari, dibawah hujan, tak bisa berteduh, dan wajah berlumpur. penuh.
aku ingat, bagaimana tawa kita bisa menjadi awal sebuah cerita.
dan hal bodoh yang selalu aku ingat, kita bisa dekat karena kita sama-sama mengejek, dengan cara meneriakkan nama mantan kita masing-masing dengan lantang. lucu :)
dan sekarang, aku yang meneriakkan nama-mu dalam hati, dan itu, sendiri.
entah, udah berapa kali aku melakukan hal bodoh itu setelah 3 tahun yang lalu.

perkenalan kita cukup cepat, begitu pula dengan kisah kita.
ilalang yang sering kita lewati, kini sudah tak tumbuh lagi. mereka semua mati bersama kisah ini.
hujan yang sering kita tunggu, kini lebih sering menakuti.
entah, sudah berapa kali aku lebih memilih bersembunyi, ketika tau hujan akan hadir lagi.
aku takut, hal-hal yang sudah pergi, hadir dan menemani sunyi.
hingga akhirnya, aku coba memberanikan diri. menantang apa itu yang disebut kenangan.
memori itu menyiksa. dalam pekat petrichor dan irama hujan, ia merayap, dan lalu menyergap seenaknya.
mencekik tenggorokan dan membuatku tak berdaya.
petrichor itu, lekuk alis itu, sopran indah itu, dan kisah itu. semuanya memberontak masuk ke otak !

heran, aku tersiksa, tapi aku menikmati.
aku suka petrichor.
setiap petrichor yang hadir. selalu membuatku diam dan mengingat semua yang pernah terjadi.
terkadang ada rasa ingin membencimu, tapi selalu ada seribu alasan untuk tidak melupakanmu.

mungkin itu caramu agar aku tak mampu melupakanmu
menciptakan kenangan manis, lalu pergi dengan sinis. tragis.

kau tau, disetiap doaku, disetiap doaku, iya, disetiap doaku selalu terselip namamu.
doa untuk kesehatanmu dan juga jalan terbaik untukmu.

pada akhirnya, aku tetaplah aku yang dulu, tetap menyayangimu semampuku. mungkin ini sebuah pengorbanan.
dan tentu, pengorbanan yang benar benar berkorban, ketika tidak diketahui orang tersayang.


*petrichor : bau tanah basah karena hujan.
Tertanda

Dwi Ma'ruf Alvansuri

11 comments:

  1. "pengorbanan yang benar benar berkorban, ketika tidak diketahui orang tersayang.." sepakat dengan itu, namun menjadi "korban" tetaplah menyakitkan.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul sekali om.
      sakiiiiiit emang :p
      terimakasih sudah berkunjung om

      Delete
  2. kata katanya berirama, prosa yang puitis, tapi tetap ringan. sepertinya juga, makin banyak anak bloof yang tergila gila akan hujan.... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih om :)
      kalau saya sendiri sudah dari dulu jadi pecandu hujan.
      hehe.
      terimakasih sudah berkunjung om :)

      Delete
  3. Inspirasi dari hujan ya :)
    Pemilihan katanya bagus, mengalir.

    Two thumbs ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak, inspirasi dari kisah fiksi semi semi nyata juga :p
      hehehe.
      terimakasih kak :)

      Delete
  4. KEUUUREEEENNNNNNNN BANGEEEEETTTTTTTTTTT BRO!! LANJUTKANN!!!

    ReplyDelete

Dwi Ma'ruf Alvansuri © 2014