December 9, 2012

Sebuah Rangkaian.

December 9, 2012
Siang itu.
aku masih terdiam, berdiri di tempat yang sama.
menghadap sudut yang sama.
dan masih dengan hati yang lama.

aku belum bisa bergerak.
kenangan itu, masih mengumpul sesak.

Mendung
kelabu, sang matahari kalah telak begitu saja.
dia tidak bisa memberontak. cahayanya mati tertutup awan sepi.
Tuhan sedang ingin melukis kemurungan hambanya pada langit.

Rintik
tetes per tetes. detik per detik. gemericik per gemericik.
beriringan, bersautan, memecah keheningan.
perlahan lahan, jendela kepala terketuk pelan - pelan, oleh kenangan.

Deras
lepas.
semua isi kepala bergerak bebas
orkestra hujan semakin keras
rindu, pilu, kenangan, harapan, semuanya berteriak puas.

Petrichor
menenangkan, menegangkan.
tapi selalu ingin dinikmati.
akhir dari sebuah rangkaian.
yang selalu dinanti.


Dwi Ma'ruf Alvansuri

Baca Selengkapnya »

December 2, 2012

Leaving On A Jet Plane

December 2, 2012
Leaving On A Jet Plane by @rupmakrup click and enjoy it ! and don't be angry ! :))
Baca Selengkapnya »

November 27, 2012

Petrichor.

November 27, 2012
"itu terserah mas ivan, tapi seiringnya berjalan waktu, rasa sayang mas ivan ke aku pasti bakal hilang"
kalimat itu masih menetap di kepala. menancap erat. memukul tepat !
perpisahan, bukan hal yang tabuh dalam sebuah hubungan.

perkenalan diselimuti petrichor yang khas. diiringi gemericik dan juga dingin yang mulai berbisik.
kita berlari kesana kemari, dibawah hujan, tak bisa berteduh, dan wajah berlumpur. penuh.
aku ingat, bagaimana tawa kita bisa menjadi awal sebuah cerita.
dan hal bodoh yang selalu aku ingat, kita bisa dekat karena kita sama-sama mengejek, dengan cara meneriakkan nama mantan kita masing-masing dengan lantang. lucu :)
dan sekarang, aku yang meneriakkan nama-mu dalam hati, dan itu, sendiri.
entah, udah berapa kali aku melakukan hal bodoh itu setelah 3 tahun yang lalu.

perkenalan kita cukup cepat, begitu pula dengan kisah kita.
ilalang yang sering kita lewati, kini sudah tak tumbuh lagi. mereka semua mati bersama kisah ini.
hujan yang sering kita tunggu, kini lebih sering menakuti.
entah, sudah berapa kali aku lebih memilih bersembunyi, ketika tau hujan akan hadir lagi.
aku takut, hal-hal yang sudah pergi, hadir dan menemani sunyi.
hingga akhirnya, aku coba memberanikan diri. menantang apa itu yang disebut kenangan.
memori itu menyiksa. dalam pekat petrichor dan irama hujan, ia merayap, dan lalu menyergap seenaknya.
mencekik tenggorokan dan membuatku tak berdaya.
petrichor itu, lekuk alis itu, sopran indah itu, dan kisah itu. semuanya memberontak masuk ke otak !

heran, aku tersiksa, tapi aku menikmati.
aku suka petrichor.
setiap petrichor yang hadir. selalu membuatku diam dan mengingat semua yang pernah terjadi.
terkadang ada rasa ingin membencimu, tapi selalu ada seribu alasan untuk tidak melupakanmu.

mungkin itu caramu agar aku tak mampu melupakanmu
menciptakan kenangan manis, lalu pergi dengan sinis. tragis.

kau tau, disetiap doaku, disetiap doaku, iya, disetiap doaku selalu terselip namamu.
doa untuk kesehatanmu dan juga jalan terbaik untukmu.

pada akhirnya, aku tetaplah aku yang dulu, tetap menyayangimu semampuku. mungkin ini sebuah pengorbanan.
dan tentu, pengorbanan yang benar benar berkorban, ketika tidak diketahui orang tersayang.


*petrichor : bau tanah basah karena hujan.
Tertanda

Dwi Ma'ruf Alvansuri
Baca Selengkapnya »

October 8, 2012

No One

October 8, 2012

Baca Selengkapnya »

September 9, 2012

Sederhana saja.

September 9, 2012
sederhana saja.
aku pernah berdoa pada Tuhan
tentang suatu hari:
dimana kita bisa berjalan saat senja bergandeng tangan
diantara serakan ladang dandelion
menghitung waktu dimana jarak pernah menyatu.
menertawakan diri ketika rindu benar benar membuat mati.
merapatkan jari, menghaturkan ingin, mencetuskan janji.
aku dan kamu, bersama setelah menanti.
Baca Selengkapnya »

September 2, 2012

Adakah lagi..

September 2, 2012
"Hai, apa kabar?"
percakapan basa-basi yang sering aku ulangi, berkali-kali.
menyesakkan tapi menyenangkan.
sambil memutar memori, menari dalam ingatan, membasuh kenangan dengan hujan.
"
Rinai hujan basahi aku
temani sepi yang mengendap
kala aku mengingatmu
dan semua saat manis itu"
"Kriiiiing !" aku berlari sembari berharap kamu yang kembali.
dan tentu, ini bukan kamu.
entah sudah berapa kali aku masih menyisakan harapan bodoh ini.
menikmati sopran mu, mengiringi bahak mu.
aku suka segala hal tentang kamu.
"
Segalanya seperti mimpi
kujalani hidup sendiri
andai waktu berganti
aku tetap tak'kan berubah"
sampai saat ini, aku tetaplah aku yang menyukaimu.
aku tetaplah aku yang suka tersenyum menatapmu, dari kejauhan.
aku tetaplah aku yang menjadi masa lalu-mu.
dan aku tetaplah aku yang masih tetap disini menunggumu, hujan-ku.
"
Aku selalu bahagia
saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu
untukku sendiri"
aku menganalogikanmu bak hujan.
dingin, tapi selalu kurindukan.
yang selalu bisa mencetak pesta suara sendiri, untuk memecah keheningan.
kamu adalah sebuah keindahan, dan tentu, juga sebuah tangisan.
"
Aku selalu bahagia
saat hujan turun
karena aku dapat mengenangmu
untukku sendiri"
lirik itu terdengar lagi.
aku tersentak, terdiam, tak mampu mengontrol diri untuk menahan memori.
kamu selalu lebih hebat dalam hal ini.

adakah lagi, saat dimana kita terdiam sembari menunggu hujan pergi.
adakah lagi, detik dimana senyum kita mengiringi aroma hujan, menari.
adakah lagi, waktu yang kita tikam mati, membiarkan kita dipeluk hujan, tertawa bersama hingga pucat pasi.
adakah lagi....
"
Aku bisa tersenyum sepanjang hari
karena hujan pernah menahanmu disini
untukku"


 #30HariLagukuBercerita
Inspired by : Hujan - Utopia



Baca Selengkapnya »

August 8, 2012

hey dad !

August 8, 2012
aku terlahir di keluarga sederhana.
ayahku seorang TNI-AD dan ibuku seorang ibu rumah tangga.
4 kepala, menjadi tanggungan seorang prajurit yang "hanya" berpangkat Kopral Kepala.
tapi jadi seorang Jendral di rumah sederhana pinjaman dari negara, sebut saja asrama.

seorang Dwi Ma'ruf Alvansuri kecil, menikmati masa Sekolah Dasar yang menyenangkan tapi bisa dibilang kurang kasih sayang.
"kehilangan" sesosok ayah saat itu, benar benar tak hiraukan.
ayah yang memiliki "kesibukan" sendiri, dengan "setan" yang masih berkutat difikirannya.
yang seolah tak pernah ada waktu untuk putra putrinya.
hingga akhirnya seorang Dwi Ma'ruf Alvansuri kecil masuk sebagai salah satu lulusan terbaik di Sekolah Dasar.

barulah, masa masa Sekolah Menengah Pertama, Dwi Ma'ruf Alvansuri kecil berhasil diterima di salah satu SMP favorit di kota Malang.
dan masuk dalam program Akselerasi (percepatan).
sang ayah mulai menyisihkan sedikit sedikit setan di kepalanya, karena tau, kebutuhanku dan kakakku tak bisa di anggap sederhana.
bahkan aku sudah mulai menghasilkan uang, dengan memutar segala sistem game online menjadi uang.
masuk sebagai siswa Akselerasi tapi tanpa ada SATU pun prestasi.
dibilang pandai, tak ada pandai pandainya, bodoh? iya mungkin,
masa masa ini dimana kenakalanku merajalela.
aku yang mulai "liar" dan menuntut kasih sayang dengan cara apapun.
sementara sang ayah merasa sudah memberikan segalanya.
dan aku menjadi sangat pendiam dirumah, dan begitu liar diluar rumah.
bahkan aku pernah dikira pengguna narkoba, lucu sekali.
tapi dibalik itu semua, ayah dan ibu, selalu membanggakan aku dan kakakku dihadapan orang lain.
dan sungguh, itu menyiksaku.
aku yang merasa tuntutan semakin besar padahal aku bukan orang besar.

2 tahun berlalu, Dwi Ma'ruf Alvansuri kecil sudah mulai dewasa, sudah mulai bimbang kemana setelah ini akan mengais ilmu.
dan akhirnya, aku putuskan masuk ke Sekolah Menengah Kejujuran, dan tentu, ini merubah segalanya.
kenapa aku putuskan SMK, karena aku tau, tak akan ada biaya untuk aku kuliah nanti.
biaya kakakku juga cukup besar.
dan itu semua yang membuat aku lebih menghasilkan uang.
diam-diam aku bisnis ini itu, membiayai uang jajanku.
2 tahun di SMK, aku sempat dituntut menjadi seorang Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, bayangkan,
aku yang tak pernah suka penekanan terhadap fisik dituntut menjadi Militer.
aku hanya pasrah, asal ayah ibu senang, aku tenang.
hingga akhirnya pada tahun tahun akhir sekolah, aku mulai berani mengungkapkan keinginanku.
aku tak ingin menjadi seorang ABRI, aku ingin menekuni pekerjaan yang memang bidangku sekolah. IT.
aku ingin kerja di kantor, duduk diatas kursi dan berhadapan dengan layar komputer.
hingga akhirnya beberapa hari aku dikucilkan dirumah karena pengakuanku.

waktu tak terdiam, tinggal beberapa bulan kisahku bersekolah.
aku selalu mengutarakan keinginanku, hingga akhirnya, dengan berat hati ayah ibu menyetujui, mereka tidak menuntut lagi. waw, aku sungguh tenang !
dan mulai saat itu, ayahku, hampir tiap hari selalu menceramahi, men-duduk-an aku di ruang tamu.
dan mengucapkan kata kata yang hampir tiap hari beliau ucapkan, sama !

"kamu bakal ikut orang, kamu harus jaga kesehatan nanti, tak ada layanan rumah sakit gratis seperti tentara, kamu harus kuliah, jangan menjadi pekerja kasar terus, ayah ibu minta maaf kalau tidak bisa memberikan segalanya untuk kamu, ayah tak seberuntung kamu, ayah dulu dari SD sudah mencari uang sendiri, SMP hanya 1,5 tahun , dan beruntung bisa masuk tentara, ayah tak ingin keturunan ayah seperti ayah, ayah ingin melakukan perubahan, bagaimanapun caranya, ayah ingat benar bagaimana mbak.mu dulu merengek meminta buah rambutan, dan ayah tidak bisa memberikan, mbak.mu tak seberuntung kamu, dulu mbakmu tak pernah minum susu, sementara kamu, ayah selalu berusaha memberikan susu untuk gizimu, meski hanya sebulan sekali, 2 bulan sekali atau mungkin 6 bulan sekali, ayah selalu berusaha mencukupi kebutuhanmu, selalu, dan bagaimanapun caranya, kamu bisa lihat kan bagaimana perjuangan ayah membiayai kamu, ayah hanya ingin, setiap kamu pulang, kamu sudah membawa mobilmu, mobil pribadimu"

"kalau kamu hanya bisa minum susu sebulan satu kali, nanti, anak anakmu harus bisa minum susu setiap hari"

ya itulah kata kata ayahku yang selalu aku ingat, ayahku dengan darah keras Sumatera nya, yang selalu berusaha membahagiakan putra putrinya.

dan pesan yang aku ingat, sebelum aku merantau ke Jakarta

"kamu disana perang ya, semangat"

aku tau, ayahku belum siap melepasku sendiri di kota sebesar ini, tapi bagaimanapun ini keputusanku.

hey dad, anakmu disini baik baik saja, anakmu disini selalu berusaha terbaik untuk kalian, ayah dan ibu.
anakmu disini tak henti hentinya mendoakan kalian.
anakmu disini hanya butuh restu, doa, dan dukunganmu.
tunggu anakmu bisa pulang membawa mobil yang ayah inginkan.
tunggu anakmu menjadi anak yang benar benar bisa dibanggakan.

adek sayang ayah.


adek sayang ibu.



Baca Selengkapnya »

April 7, 2012

Salah.

April 7, 2012
aku ingin memilikimu seutuhnya sepenuhnya, kelihatan egois memang, tapi ini benar-benar ingin aku lakukan.
tapi toh aku bisa apa, kamu bukan aku yang bisa aku kontrol semau ku, kamu bukan bola yang bisa aku pantulkan sesuka ku, kamu ya kamu, dengan segala kemisteriusan, ya, kamu memang misterius.


untuk saat saat seperti ini, entah siapa yang salah dan siapa yang disalahkan, semua membaur jadi satu.
ketakutanku memuncak, kecemburuan memaksaku memberontak.
mengingatkanku pada masa lalu, kamu yang menjadi aku dulu.
apa ini karma? aku tak percaya karma, yang aku percaya Tuhan itu ada.


satu hati satu kepala, tapi dua pemuja di dalamnya. aku tidak suka, sungguh ini menyiksa.
terkadang aku yang berkuasa, terkadang terbagi dua, dan mungkin sama sekali tak ada aku didalamnya.
mau sampai kapan kita bersandiwara, aku sudah percaya dengan kita.


apa ini semua karna aku terlalu mengekangmu, sungguh, aku hanya takut kehilangan.
aku hanya berusaha mempertahankan apa yang memang pantas untuk aku pertahankan, sebut saja kamu.


kalau memang terlalu lebih menyayangimu itu salah, aku benar benar tak ingin menjadi benar.


Lho van? curhat?? |nggak, ini lagi galau | i dont care | tapi aku tetep care
Baca Selengkapnya »

March 13, 2012

I always want to talk to you

March 13, 2012
I check my phone for your messages very often. When you don’t talk to me, I have the urge to talk to you. But I don’t want you to get bored of me. As selfish as it may sound, I’ll keep my distance because I want you to miss me as much as I miss you.
Baca Selengkapnya »
Dwi Ma'ruf Alvansuri © 2014