5 Juli 2016

Setahun Sekali

5 Juli 2016
(Teruntuk M)

1/
Setahun sekali,
kita menikmati kota Malang.
Dingin yang menyusup,
hening yang bergeming.
temani detik yang mengiring.

2/
Diatas aspal yang menggigil,
punggungku akan lebih bahagia dari biasanya.
Menerima pukulan-pukulan kecil darimu,
saat cerita-cerita hantu kuperdengarkan,
dan tawaku ikut bergabung meledekmu.

3/
Meja kafe tersenyum manis,
Cappuccino didepanku, minuman bertema strawberry pilihanmu,
saling sapa sembari memasang telinga.
Menyimak obrolan tentang hidup,
teman baru, kebodohan masa silam,
dosen menyebalkan,
pekerjaan yang tak ada habisnya,
tapi tentu tak pernah perihal percintaan.

4/
Entah kapan kau akan mengerti,
Malang tak melulu tentang pulang,
namun terkadang,
hanya untuk menjemput tawa renyah,
dan senyummu seorang.

Dwi Ma'ruf Alvansuri
*terinspirasi dari tulisan Faizal Iskandar dengan judul yang sama.
Baca Selengkapnya »

18 Desember 2015

Rumah.

18 Desember 2015
Mungkin, 
aku bukanlah rumah tuk kepulanganmu.
Namun,
sekotor-kotornya duka yang kau bawa,
pintu terbuka untukmu akan selalu ada.
Baca Selengkapnya »

3 November 2015

Merayakan Hari Ini.

3 November 2015


Hari ini aku ingin menjadi sepatu kesayanganmu,
kau pakai seharian,
tanpa peduli apa yang kau injak,
aku akan tetap melindungi telapak kakimu.

Hari ini aku ingin menjadi sweater kebanggaanmu,
kau tunjukkan kepada siapa saja,
tanpa peduli apapun aktivitasmu,
aku akan tetap berusaha membuatmu nyaman.

Hari ini aku ingin menjadi kasur di kamarmu,
meski kau tinggal pergi sedari pagi,
aku akan tetap menyambut rebahmu,
dan mengusir semua lelah yang merangkulmu.

Hari ini aku ingin menjadi jam dinding di kamarmu,
yang akan menggerakkan diri lebih lambat,
supaya bahagiamu bisa bertahan lebih lama.

Hari ini aku ingin menjadi telpon genggammu,
yang akan menciptakan senyum pada bibirmu,
ketika membaca pesan-pesan singkat dari keluarga dan teman-temanmu.

Jika diijinkan,
Hari ini aku ingin menjadi kekasihmu,
yang selalu kamu tunggu,
sebagai pelengkap,
dari semua kejutan-kejutan yang kamu terima.

Jika masih diijinkan lagi,
Hari ini aku ingin menjadi puisi pertama yang kau suka.
Meski tak ada rasa tertarikmu pada kata-kata,
ijinkan aku mendoakanmu dalam setiap baitku.
Aku ingin ditali pitakan Tuhan pada lembar-lembar doa yang terkirim hanya untukmu.
Lembaran doa untuk segala kebaikan,
diusiamu yang baru.
Selamat merayakan hari ini.


Jakarta, 3 November 2015

Dwi Ma'ruf Alvansuri
Baca Selengkapnya »

30 September 2015

Kerangka Pernikahan.

30 September 2015

Aku sering membayangkan pernikahan kita.
Di sebelum lelapku, di peron stasiun saat menunggu kereta, bahkan disela-sela waktu kerjaku.
Aku senang merangkainya, dengan senyum yang terurai begitu saja.

Kelak, 
dipernikahan kita.
Di taman sederhana,
dikelilingi bunga dan balon berwarna setiap sudutnya,
akan disambut oleh sepasang penerima tamu dengan pakaian warna ungu,
sembari memberikan amplop coklat dengan perangko bergambarkan wajah kita sebagai cinderamata.

Di pintu masuk,
akan dihadang oleh tukang foto polaroid,
yang akan menyeret tamu ke lokasi penuh bunga,
dengan latar yang menggantung foto serta pesan-pesan manis dari sahabat kita.

Di sisi kanan,
akan tertata rapi kursi-kursi berwarna putih.
Sebagai tempat sahabat-sahabat kita menikmati hidangan,
yang semua menunya kamu pilihkan.

Di sisi kiri,
lokasi para pengolah melodi beraksi.
Mengiringi setiap detik yang berlalu, 
dengan nada sederhana,
yang aku yakin, kamu pasti suka.

Dan di pusat taman,
berada paling depan,
diatas panggung pelaminan yang tidak terlalu tinggi,
kita berdiri.
Aku mengenakan kemeja putih dengan setelan jas hitam,
dan kamu mengenakan gaun putih panjang,
yang pasti akan membuat iri para undangan.

Ya, seperti itulah kerangka pernikahan kita yang sering aku idamkan. 


Hingga akhirnya aku menyadari...

Meski nyatanya,
tak ada yang ingin ku-per-istri selain engkau,
tak ada yang ingin aku temani menua selain engkau,
dan tak ada yang kuijinkan tertawa melihat rambut putihku bertambah sebelum engkau.

Namun,
akhirnya aku harus terima.
Saat ini,
kau sedang mempersiapkan kerangka pernikahanmu sendiri.
Bukan denganku, 
melainkan,
Pernikahan,
kalian.


...yang membungkusmu dalam doa.
Dwi Ma'ruf Alvansuri



Baca Selengkapnya »

22 Maret 2015

Hingga akhirnya saya tersadar.

22 Maret 2015


pernah ada hari dimana saya dan kamu saling melontarkan candaan, saling melancarkan keusilan, saling bercerita dongeng kehidupan, dan saling mengungkap perasaan.
pernah ada waktu dimana saya dan kamu saling menatap malu, saling menegur kesalahan, dan saling menertawakan kebodohan.
dan juga, pernah ada saat dimana saya merasa jatuh di kedalaman jurang bola matamu atau sesekali saya sedang bersandar di lekuk manis bibirmu itu.

bersamamu, saya selalu berhati-hati ketika berbicara, selalu berusaha mengisi detik terdiam di setiap pembicaraan, dan selalu berusaha berani menatap matamu lebih lama, meskipun pada akhirnya, saya adalah pengecut yang hanya berani jatuh cinta.

namun, disemua kebersamaan saya dan kamu, saya pernah mengira, senyum tipis yang diciptakan sepasang lapis bibirmu itu adalah mutlak teruntuk saya, saya juga pernah merasa bahwa saya adalah satu-satunya lelaki beruntung yang mendapatkan perhatian sederhana dari kamu, atau canda dan tawamu saat bersama saya, saya pernah mengira bahwa saya yang telah membuatmu merasa nyaman.

saya ingin mengerti isi pikiran dan juga hatimu, apakah memang teruntuk saya, atau hanya untuk buat saya bertanya-tanya.

hingga akhirnya saya tersadar, kamu telah bersamanya. bersama lelaki yang telah berhasil mencuri senyum, tawa, dan juga kesemua-mu yang sempat saya pikir adalah kepemilikan saya.

saya salah dalam menangkap semua tingkah lakumu. saya kehilanganmu. meski saya dan kamu masih tetap bisa bersama, masih tetap bisa berbagi senyum dan tawa. saya telah kalah, saya telah gagal. tapi tetap, saya adalah seorang pengecut yang hanya berani jatuh cinta.

jika ini adalah sebuah kesia-sian, setidaknya saya dan kamu, kita, pernah menertawakan hal yang sama, setidaknya kita pernah saling menjaga, dan setidaknya kita pernah saling membahagiakan.

pada akhirnya, ijinkan saya untuk tetap menghangatkanmu, di dalam sebuah doa, yang hanya diketahui oleh Tuhan, saya, dan juga malam.

Jakarta, selepas hujan dan senja.
yang menjadikanmu sebuah puisi.


Dwi Ma'ruf Alvansuri

Baca Selengkapnya »
Dwi Ma'ruf Alvansuri © 2014